Rabu, 01 Februari 2012

Barokah Al Qur'an

Aku adalah seorang anak petani yang tidak pernah melihat wajah ayahku sejak lahir. Sebab, ayahku telah wafat sejak aku berusia 3 bulan. Tetapi, aku selalu merasa berada di dekat ayah ketika aku mulai menghafal ayat per ayat dalam Al Qur’an. Karena kata ibu, pesan ayah sebelum wafat adalah didiklah anakmu menjadi ulama yang hafidz (hafal) Qur’an. Oleh karena itu, aku diberi nama Hafidzuddin. Dan karena itu pula, aku pun dimasukkan ke Pondok Pesantren Tahfidz di daerah Jawa yang jauh dari tempat kelahiranku. Hanya satu niatku untuk pergi jauh, yaitu menghafal Al Qur’an. “Fidz, hebat kamu… sebentar lagi antum hafidz, tinggal 5 juz lagi. Padahal kamu kan baru 2 tahun mondok. Aku yang 6 tahun mondok ja belum nyampe 20 juz. Caranya biar cepet hafal itu gimana ya Fidz?” Ujar Kang Khalish membuyarkan lamunanku. “Ah… Kang Khalis rupanya, mengagetkan saja. O ya, Kang Khalish habis lihat papan pengumuman ya…” “Iya, aku tadi habis lihat dan kamu ada di posisi ke lima teratas santri yang akan hafidz. Lha wong aku yang wis 6 tahun mondok masih posisi 20 ke bawah loh, piye corone…?” “Hehe…, Kang Khalis bisa saja, semuanya akan mudah asal dilakoni tenanan, kang. Sing sregep ngafale lan nderese* (mengulang hafalan). Yo wis, aku ditunggu sama ustad Hanafi, katanya ada hal penting yang mau disampaikan. Assalamu’alaikum…” “Wa’alaikum salam” Balas Kang Khalis “Assalamu’alaikum ustad.” Kataku kepada ustad Hanafi. “Wa’alaikum salam, Fidz..”

“Ustad katanya memanggil saya, ada apa ya ustad?” “Iya, begini Fidz, tadi saya di telepon sama pegawai dari Kabupaten. Katanya, mereka butuh peserta yang hafid 20 juz untuk mengikuti MTQ* (Musabaqoh Tilawatil Qur’an) Provinsi. Dan setelah saya matur pada Kyai, beliau menunjuk kamu. Kamu mau kan mengikutinya?” “InsyaAllah ustad, dengan senang hati”. Jawabku setelah terdiam beberapa saat. “Baiklah kalau begitu, sekarang kamu persiapkan hafalanmu karena waktunya tinggal 2 minggu lagi”. “Baik, ustad”. Sambutku, seraya pamit meninggalkan kamar pengurus. *** Akhirnya, tibalah waktu yang ditunggu-tunggu. Aku pun dikirim mengikuti MTQ. Merupakan suatu kebanggaan bagiku. Karena sebelumnya aku tidak pernah mengikuti event seperti ini. Terlebih, hal ini juga membawa nama baik pondok. Aku berkeyakinan, bahwa dengan ajang ini aku bisa mensyiarkan Islam tanpa harus berceramah di podium secara seremonial. Dan aku juga yakin ini merupakan awal dari perjuanganku mensyiarkan Islam sebagaimana wasiat ayahku dulu. Setelah tampil dengan memukau yang diiringi tepuk tangan yang meriah, hatiku sangat senang. Bukan karena tepuk tangannya, tapi karena aku sudah bisa mensyiarkan Islam dengan membaca Al Qur’an. Namun, sungguh diluar dugaan, setelah surat keputusan dewan hakim dibacakan, ternyata aku mendapat juara 1 untuk kategori 20 juz. Segera aku tundukkan badanku ke tanah seraya bersyukur. Tanpa sadar, tiba-tiba saja aku merasa kehadiran ayah di tengah-tengah hatiku. Untaian air mata bahagia pun tak bisa ku tahan. Alhamdulillah, ku terima piala dan piagam serta lembaran uang yang berjumlah Rp. 5.000.000,00. aku sangat bahagia karena uang itu bisa aku tabung untuk modalku kuliah di Mesir. *** Hari ini adalah hari ahad yang merupakan hari libur, karena hari ahad Kyai Anwar, pengasuh pesantrenku beserta ustad-ustad pilihan mengadakan ceramah agama untuk warga sekitar dan umum. Oleh karena itu, waktu senggang ini digunakan santri untuk refresing. Ada yang jalan-jalan membeli keperluan harian, ada yang bermain, ada yang tidur, tapi ada juga yang nderes sendiri dikamarnya. Sedangkan aku memilih membaca novel karangan Habiburrahman yang merupakan penulis favoritku. Di kamar yang berukuran 5x5 meter itu, hanya ada aku dan Kang Rudi, yang merupakan ketua kamarku. “Fidz, kamu kan sudah mau hafid, berarti ga’ lama lagi boyong* (pergi meninggalkan pondok selamanya) kan… habis itu mau lanjut kuliah atau pulang ke kampung halaman?” Tanya Kang Rudi dengan nada agak serius sambil tetap membaca sebuah kitab tebal. “Hemm.. InsyaAllah, kalau ada uang sih maunya terus kuliah ke Mesir, kang” Jawabku, agak kaget juga mendengar pertanyaan itu. “Bagus juga tujuanmu itu, semoga bisa tercapai ya Fidz…” “Amiin…” Sahutku, seraya membuka lembar halaman novel. *** “Dengan mengucap bismillahirrahmānirrahim.. saya menyatakan bahwa saudara Hafidzuddin bin Umar lulus dalam test Hifdzil Qur’an dengan sangat baik. Semoga dapat menjadi generasi penerus yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa.” Kata Kyai Anwar yang membaca ijazah hifdzilku di prosesi wisuda Hifdzil Qur’an. “Alhamdulillah… ya Allah, terima kasih atas anugerah-Mu yang sangat besar kepadaku.” Ujarku dalam hati, yang kemudian kembali merasakan kehadiran ayahku di saat-saat indah ini. Air mataku jatuh ketika bersalaman untuk yang terakhir kalinya pada Kyai, karena setelah itu aku akan melanjutkan thalabul ‘ilmuku ke Mesir dengan uang yang berasal dari juara MTQ, honor mengajar di Madrasah ‘Aliyah (MA) selama aku mondok, dan juga uang dari warga desa yang meminta siraman rohani dariku. Aku bersyukur yang tak terkira, terlebih ketika aku akan mengirimkan kabar gembira ini pada ibuku di rumah. Pastilah beliau senang, apalagi bila ayahku masih hidup. Tapi aku yakin ayahku juga melihat prestasiku dari atas sana. Belum sempat aku mengirim pesan ke ibu, tiba-tiba Handphone ku berdering, tertera di layar nama pamanku. “Assalamu’alaikum Fidz, cepat pulang ya, Ibumu sakit keras dan kata dokter harus segera dioperasi. Ibumu membutuhkanmu.” Kata-kata itu laksana pedang yang mencabik-cabik hatiku yang sedang bahagia. Seketika wajah berseriku berubah menjadi pucat, badan tegapku berubah menjadi lemas, dan semangat hidupku hilang. “Ya Allah, mengapa cobaan-Mu datang bersamaan dengan nikmat yang Engkau berikan..” Gumamku dalam hati, tanpa bisa memberikan kata-kata pada pamanku. Keesokan harinya, aku segera meluncur ke desaku di pedalaman Kalimantan. Dan sesampainya di rumah, segera aku menemui ibuku yang terbaring lemah. “Paman, ayo kita bawa ibu secepatnya ke rumah sakit!” Kataku tanpa pikir panjang. “Tapi biayanya darimana Fidz?” Tanya pamanku, ragu. “Sudahlah paman, masalah uang gampang, yang penting ibu bisa segera sembuh.” Setelah operasi yang berjalan lancar, akhirnya kondisi ibu berangsur membaik. Senyum manisnya pun mulai bisa terlihat walau hanya sesekali saja. Dan uang untuk kuliahku yang telah lama kukumpulkan selama di pondok, kurelakan untuk kesembuhan ibuku. Apalah artinya kuliah dibandingkan perjuangan ibu yang membesarkan aku tanpa seorang ayah. *** Ternyata, kabar sakitnya ibuku terdengar juga sampai pondok. Aku, yang walaupun sudah di wisuda tetapi tetap memilih untuk melanjutkan pengabdianku di pondok, sebagai amal jariyahku dan guna mengisi kekosongan karena tidak jadi kuliah di Mesir. “Ustad Hafidz, di panggil Kyai di ndalem* (kediaman)” Kata salah seorang santri kepadaku. Di dalam hati, aku bertanya-tanya mengapa Kyai memanggilku ke ndalem, tidak biasanya. “Assalamu’alaikum, Kyai” “Wa’alaikum salam, silakan masuk Fidz.” Jawab kyai. “Begini Fidz, tadi baru saja saya menerima telepon dari kantor Kementrian Agama, katanya ada pemberian beasiswa untuk pelajar muslim yang ingin belajar di Timur Tengah. Hanya saja, untuk tahun ini di buat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun-tahun kemarin yang mendapat beasiswa dipilih dari sekolah-sekolah, untuk tahun ini diambil dari pondok pesantren yang santrinya hafal Qur’an. Dan Alhamdulillah, pesantren ini termasuk yang dipilih. Nah, kamu sudah mengerti mengapa aku panggil kesini?.” “Mboten ngertos, Kyai” Jawabku dengan penuh tanda tanya. “Kamulah santri yang akan kuliah di Timur Tengah atas beasiswa dari Kementrian Agama itu!. Fidz, uang yang kamu tabung selama ini dan dipakai buat berobat ibumu, sesungguhnya telah diganti oleh Allah berkat barokah hafalan Qur’anmu. Ingatlah Fidz, Allah memberikan rizki kepada hamba-hambanya itu min khaitsu lā yahtasib, dari jalan yang tidak disangka-sangka.” “Masya Allah kyai, terima kasih atas kepercayaannya dengan memilih saya. Saya benar-benar senang dan bersyukur sekali atas anugerah ini. Doakan saya kyai, agar dapat istiqomah dan dapat terus melanjutkan perjuangan kyai dalam mensyiarkan Islam”. “Amiin.. ya Allah, doaku pasti selalu menyertaimu Fidz. Engkau adalah salah satu santri kebanggaanku, kejar dan raihlah cita-citamu ya Fid.” *** Alhamdulillah, berkat Al Qur’an akhirnya aku dapat kuliah di Mesir dan bahkan telah menunaikan ibadah haji. Dan yang lebih penting, sekarang aku sudah memiliki pesantren sendiri di kampung halaman yang menjadi medan dakwahku sesuai pesan ayahku dulu. Aku sungguh bersyukur bisa hafal Al Qur’an, banyak hal indah yang bisa didapat berkatnya. Dan yang paling mengesankan hingga saat ini, setiap aku memberikan ilmu kepada santri-santri, aku merasa ayah juga turut hadir menyaksikannya, walaupun sebenarnya aku tidak pernah melihat wajahnya. Meskipun begitu, hubungan batin antara ayah dan anak tidak dapat dibohongi. Aku merasa ayah sudah bahagia di alam sana berkat Al Qur’an yang kuhafal. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam: “Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari, dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (Kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab, “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.”

0 komentar:

Poskan Komentar